<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>artikel pajak &#8211; Pajak Pro</title>
	<atom:link href="https://www.pajakpro.com/tag/artikel-pajak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pajakpro.com</link>
	<description>Konsultan Pajak dan Akuntansi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Jul 2020 01:46:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.5.6</generator>

<image>
	<url>https://www.pajakpro.com/wp-content/uploads/2020/07/cropped-pajakpro@300x-100-32x32.jpg</url>
	<title>artikel pajak &#8211; Pajak Pro</title>
	<link>https://www.pajakpro.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dear Pebisnis, Ini Cara Jadikan PPN Sumber Penerimaan Usaha</title>
		<link>https://www.pajakpro.com/dear-pebisnis-ini-cara-jadikan-ppn-sumber-penerimaan-usaha/</link>
					<comments>https://www.pajakpro.com/dear-pebisnis-ini-cara-jadikan-ppn-sumber-penerimaan-usaha/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[BCG Consulting Group]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2020 01:41:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[artikel pajak]]></category>
		<category><![CDATA[berita pajak]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan pajak]]></category>
		<category><![CDATA[layanan pajak]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[perpajakan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pajakpro.com/?p=2212</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rumusnya, pendapatan usaha itu hasil penjualan barang atau jasa. Sedangkan pajak, dari namanya saja jelas sebuah kewajiban yang harus dibayarkan. Tapi ternyata PPN bisa jadi sumber penerimaan. Bagaimana caranya? Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bisa jadi salah satu sumber penerimaan suatu bisnis ini diakui oleh Konsultan Pajak The Great Tax (TGT), Ihsan Thariq Alhamra, dalam sebuah seminar situs web atau webinar Jurnal x GKPNP bertajuk “Effective Tax Planning to Reduce Tax Expense” beberapa waktu lalu. Pengertian PPN Sebelum masuk pada pembahasan selanjutnya cara yang bisa dilakukan untuk menjadikan PPN sebagai sumber penerimaan dari usaha yang dijalankan, Klikpajak akan kembali mengingatkan apa</p>
<p>The post <a href="https://www.pajakpro.com/dear-pebisnis-ini-cara-jadikan-ppn-sumber-penerimaan-usaha/" target="_blank">Dear Pebisnis, Ini Cara Jadikan PPN Sumber Penerimaan Usaha</a> first appeared on <a href="https://www.pajakpro.com/" target="_blank">Pajak Pro</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rumusnya, pendapatan usaha itu hasil penjualan barang atau jasa. Sedangkan pajak, dari namanya saja jelas sebuah kewajiban yang harus dibayarkan. Tapi ternyata PPN bisa jadi sumber penerimaan. Bagaimana caranya?</p>
<p>Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bisa jadi salah satu sumber penerimaan suatu bisnis ini diakui oleh Konsultan Pajak The Great Tax (TGT), Ihsan Thariq Alhamra, dalam sebuah seminar situs web atau webinar Jurnal x GKPNP bertajuk “Effective Tax Planning to Reduce Tax Expense” beberapa waktu lalu.</p>
<h3><span id="Pengertian_PPN"><b>Pengertian PPN</b></span></h3>
<p>Sebelum masuk pada pembahasan selanjutnya cara yang bisa dilakukan untuk menjadikan PPN sebagai sumber penerimaan dari usaha yang dijalankan, Klikpajak akan kembali mengingatkan apa itu PPN.</p>
<p>Merujuk pada Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, PPN adalah pajak yang dikenakan atas transaksi jual dan beli barang maupun jasa. PPN ini dipungut, disetor dan dilaporkan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) ke kas negara.</p>
<p>Jadi, yang membayar PPN dari transaksi jual-beli tersebut adalah konsumen akhir. Artinya, beban PPN yang dibayarkan dari setiap transaksi barang/jasa itu bukanlah penjual, melainkan pembeli atau konsumen akhirlah yang wajib membayar PPN tersebut.</p>
<p>Sementara itu, PKP sebagai penjual yang memungut PPN dari pembeli itu wajib membayarkan dan melaporkan ke negara. Status PKP ini adalah pengusaha yang sudah terdaftar sebagai PKP dengan ketentuan jumlah omzetnya sudah di atas Rp4,8 miliar dalam setahun.</p>
<p>Bagi pengusaha dengan omzet lebih dari Rp4,8 miliar setahun wajib mendaftar diri sebagai PKP. Dengan menjadi PKP, maka wajib pula menjadi pemungut, penyetor dan melaporkan PPN yang dibayarkan dari pembeli tersebut ke negara.</p>
<p>Namun, bagi pengusaha dengan omzet masih di bawah Rp4,8 miliar setahun juga bisa mengajukan diri sebagai PKP, namun bukan suatu keharusan. Jika kemudian hari ingin mencabut status PKP, bisa dilakukan.</p>
<h3><span id="Contoh_Pengenaan_PPN_1"><b>Contoh Pengenaan PPN 1</b></span></h3>
<h4><b>Gambaran PPN yang dibayar oleh konsumen akhir untuk konsumsi:</b></h4>
<p>Sebagai gambaran dari PPN yang dikenakan pada konsumen akhir untuk dikonsumsi misalnya, ketika Anda membeli makanan ringan di restoran cepat saji. Pada lembar struk berisi rincian makanan yang Anda beli pasti akan tertera PPN 10%.</p>
<p>Artinya, Anda harus membayar sejumlah harga makanan cepat saji yang Anda beli itu, ditambah PPN 10% dari total belanjaan.</p>
<p><b>Contoh:</b></p>
<p>Pak Kelik beli Paket Ayam Goreng di Restoran AKC senilai Rp50.000. Kemudian dikenakan PPN 10% dari total nilai harga Paket Ayam Goreng itu adalah Rp5.000. Dengan demikian, jumlah yang dibayarkan Pak Kelik untuk makanan cepat saji Paket Ayam Goreng tersebut sebesar Rp55.000.</p>
<p>Nah, PPN sebesar 10% yang dibayarkan Pak Kelik itu artinya dipungut oleh Restoran AKC. Sehingga Restoran AKC wajib menyetorkan dan melaporkan PPN sebesar Rp5000 yang dibayarkan Pak Kelik itu ke kas negara.</p>
<h3><span id="Contoh_Pengenaan_PPN_2"><b>Contoh Pengenaan PPN 2</b></span></h3>
<h4><b>Gambaran PPN yang dibayar oleh PKP sebagai konsumen:</b></h4>
<p>Tentu saja, subjek kena PPN tidak hanya bagi konsumen akhir yang membeli barang/jasa untuk dikonsumsi saja. Tapi juga bagi pengusaha kena pajak yang membeli barang/jasa untuk digunakan sebagai penunjang produksi usaha.</p>
<p><b>Contoh:</b></p>
<p>PT AAA membeli bahan baku tekstil dari PT BBB senilai Rp100.000.000. Dari transaksi ini dikenakan PPN 10% senilai Rp10.000.000. Sehingga total nilai transaksi adalah Rp110.000.000.</p>
<p>Namun PT AAA hanya membayar senilai Rp100.000.000 saja ke PT BBB sebagai PKP Penjual. Kemudian PT AAA menerbitkan membuat <i>invoice </i>dari pembeliannya sebesar Rp100.000.000 beserta bukti potongnya (PPN 10%) sebesar Rp10.000.000 yang diserahkan ke PT BBB.</p>
<p>Kemudian PT AAA membayarkan PPN dari transaksi pembeliannya dari PT BBB itu ke negara. Lalu PT BBB dalam hal ini sebagai produsen memperoleh pembayaran dari bahan baku tekstil yang dijualnya ke PT AAA senilai Rp100.000.000 beserta bukti potong yang dibuat oleh PT AAA sebesar Rp10.000.000.</p>
<p>Bukti potong yang diterbitkan PT AAA ini nantinya bisa digunakan oleh PT BBB sebagai penjual untuk dikreditkan atau pengurang pajak pada saat menghitung dan melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh Badan.</p>
<p><img class="aligncenter wp-image-7348 size-large lazyloaded" src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-1200x540.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-300x135.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-333x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 333w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi.jpg?size=384x173&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-768x346.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-1200x540.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1200w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-1536x691.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1536w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 2000w" alt="pajak usaha ekspedisi" width="1200" height="540" data-lazy-srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-300x135.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-333x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 333w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi.jpg?size=384x173&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-768x346.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-1200x540.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1200w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-1536x691.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1536w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 2000w" data-lazy-sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" data-lazy-src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/12/KlikPajak_Blog_Ketahui-PPN-dan-PPh-Pasal-23-Atas-Pajak-Usaha-Ekspedisi-1200x540.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" data-was-processed="true" />Ilustrasi transaksi barang kena PPN</p>
<h3><span id="Potensi_PPN_Jadi_Sumber_Pendapatan"><b>Potensi PPN Jadi Sumber Pendapatan</b></span></h3>
<p>PPN memang merupakan salah satu instrumen penerimaan negara dari perpajakan, mengingat PPN dibayarkan ke kas negara.</p>
<p>Meski PKP penjual hanya sebagai perantara yang memungut dan menyetor serta melaporkan PPN yang dibayarkan oleh pembeli/konsumen akhir, namun PKP bisa memanfaatkannya sebagai salah satu sumber penerimaan.</p>
<p>Ihsan menuturkan, meski hanya sebagai yang memungut, menyetor dan melaporkan PPN yang dibayarkan konsumen, pengusaha bisa menggunakannya sebagai sumber penerimaan dengan cara menyusun perencanaan pajak sedari awal.</p>
<p>Yakni, mengajukan diri <strong>sebagai Pengusaha Kena Pajak.</strong> Dengan menjadi PKP, maka pengusaha bisa menerbitkan faktur pajak dari berbagai transaksi yang dikenakan PPN dan bisa mengkreditkan faktur pajak masukan tersebut sebagai pengurang pajak.</p>
<p>Dari ilustrasi perhitungan pemungutan PPN di atas, Ihsan menyebutkan dapat dikatakan bahwa,”Bukti potong itu sudah seperti cek saja yang bisa kita gunakan nanti (saat menghitung) SPT Tahunan Badan (sebagai pengurang pajak)”.</p>
<p>Dengan demikian adanya faktur pajak dari PPN itu bisa dikatakan sebagai salah satu sumber penerimaan bagi pengusaha kena pajak karena bisa menjadi mengurang pajaknya.</p>
<div id="attachment_20274" style="width: 810px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-20274" class="lazyloaded wp-image-20274 size-full" src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak-250x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 250w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak-300x180.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak.jpg?size=384x230&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak-768x461.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 800w" alt="Ilustrasi restitusi pajak atau pengembalian PPN" width="800" height="480" data-lazy-srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak-250x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 250w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak-300x180.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak.jpg?size=384x230&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak-768x461.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 800w" data-lazy-sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" data-lazy-src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2020/06/Restitusi-Pajak.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" data-was-processed="true" /><p id="caption-attachment-20274" class="wp-caption-text">Ilustrasi restitusi pajak atau pengembalian PPN</p></div>
<blockquote><p><strong>Baca Juga: <a href="http://www.pajakpro.com/penerimaan-pajak-ri-diramal-anjlok-lebih-dalam-lagi/">Penerimaan Pajak RI Diramal Anjlok Lebih Dalam Lagi</a></strong></p></blockquote>
<h3><span id="Insentif_Pengembalian_Pendahuluan_dari_PPN"><b>Insentif Pengembalian Pendahuluan dari PPN</b></span></h3>
<p>Salah satu instrumen PPN dikatakan menjadi sumber penerimaan usaha adalah ketika memanfaatkan insentif pajak dari pemerintah. Salah satunya seperti yang baru-baru ini diterbitkan, yakni Pengembalian Pendahuluan PPN.</p>
<p>Insentif Pengembalian Pendahuluan PPN ini dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi beban ekonomi wajib pajak akibat pandemi virus corona (Covid-19), kepada 431 bidang industri, perusahaan KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dan perusahaan di Kawasan Berikat.</p>
<blockquote><p>“Jadi, perusahaan mengajukan restitusi atau pembayaran kembali pajak yang telah dibayar lebih cepat, dengan jumlah lebih bayar yang dapat dipercepat restitusinya maksimal Rp5 miliar, tanpa persyaratan melakukan kegiatan tertentu, seperti ekspor barang atau jasa kena pajak, penyerahan pemungut PPN, atau penyerahan yang tidak dipungut PPN.”</p></blockquote>
<p>Insentif PPN ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 23/PMK.03/2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Wabah Virus Corona.</p>
<p>Menurut Konsultan The Great Tax, Andre Septiano, inilah pentingnya sebagai pelaku usaha untuk selalu memperbarui informasi terkini mengenai pajak agar bisa memanfaatkan semaksimal mungkin insentif pajak pemerintah guna membantu operasional usaha.</p>
<p>“Kita tahu masa pandemi ini (usaha) butuh <i>cash flow</i>. Salah satu strategi bisnis supaya tetap stabil, bisa <i>survive </i>di masa seperti ini, harus bisa mengatur <i>cash flow</i> sebaik mungkin. Nah, kita bisa manfaatkan insentif ini, tinggal ajukan proses<i> refund</i>,” kata Andre.</p>
<p>Dengan demikian, beban usaha terkait dengan arus kas di masa sulit seperti sekarang ini bisa diatasi. Dan tentunya percepatan pengembalian PPN lebih bayar ini jadi tambahan penerimaan usaha karena akan menambah kas usaha.</p>
<div id="attachment_7732" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-7732" class="lazyloaded wp-image-7732 size-large" src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-1200x540.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-300x135.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-333x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 333w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error.jpg?size=384x173&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-768x346.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-1200x540.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1200w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-1536x691.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1536w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 2000w" alt="Ilustrasi bayar dan lapor pajak online" width="1200" height="540" data-lazy-srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-300x135.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-333x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 333w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error.jpg?size=384x173&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-768x346.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-1200x540.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1200w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-1536x691.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1536w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 2000w" data-lazy-sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" data-lazy-src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/01/KlikPajak_Blog_KlikPajak_Blog_Lapor-SPT-Pajak-Online-Manfaat-dan-Solusi-Hadapi-Laman-DJP-Online-Error-1200x540.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" data-was-processed="true" /><p id="caption-attachment-7732" class="wp-caption-text">Ilustrasi bayar dan lapor pajak online</p></div>
<h3><span id="Ingat_Batas_Waktu_Penyetoran_dan_Pelaporan_PPN"><b>Ingat Batas Waktu Penyetoran dan Pelaporan PPN</b></span></h3>
<p>Apakah Anda sudah memanfaatkan insentif pajak pemerintah untuk mendapatkan kembali PPN lebih bayar? Tapi yang tak kalah penting pula adalah Anda harus ingat batas waktu penyetoran dan pelaporan PPN untuk menghindari denda dan sanksi.</p>
<h3><span id="Denda_Terlambat_Setor_dan_Lapor_PPN"><b>Denda Terlambat Setor dan Lapor PPN</b></span></h3>
<p>Sesuai dengan UU Perpajakan, ada sanksi dan denda yang dikenakan pada wajib pajak yang terlambat menyetor dan melaporkan PPN atau lainnya terkait PPN, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Denda Rp100.000 hingga Rp500.000 jika terlambat menyampaikan SPT Masa PPN</li>
<li>Denda Rp100.000 hingga Rp1.000.000 jika terlambat menyampaikan SPT Tahunan Badan</li>
<li>Denda 150% dari jumlah pajak kurang bayar yang dilakukan pembetulan sendiri tapi belum disidik</li>
<li>Denda 2% dari total Dasar Pengenaan Pajak (DPP) jika sudah berstatus PKP tapi tidak membuat faktur pajak, atau sudah membuat faktur pajak tapi tidak tepat waktu</li>
<li>Denda 2% dari DPP jika berstatus PKP tapi tidak mengisi faktur pajak secara lengkap</li>
<li>Denda 2% jika faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitannya</li>
</ul>
<h3><span id="Sanksi_Administrasi_Bunga_Terkait_PPN"><b>Sanksi Administrasi Bunga Terkait PPN</b></span></h3>
<p>Sanksi ini berupa sejumlah bunga yang dikenakan jika pelanggaran menyebabkan utang pajak lebih besar. Besar jumlah bunga ini akan dihitung berdasarkan persentase tertentu dari beberapa variabel, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Sanksi bunga 2% setiap bulan dari jumlah pajak kurang bayar jika melanggar pembetulan SPT Masa dan Tahunan</li>
<li>Sanksi bunga 2% dari total pajak terutang jika terlambat membayar pajak masa dan tahunan</li>
<li>Sanksi 2% per bulan dari jumlah kurang bayar dengan maksimal 24 bulan jika ada kekurangan pembayaran pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)</li>
<li>Sanksi bunga 48% dari jumlah pajak yang tidak dibayar atau kurang bayar jika ada tindak pidana dari SKPKB yang telah diterbitkan dalam jangka waktu 5 tahun</li>
<li>Sanksi bunga 2% dari jumlah pajak kurang bayar jika SKPKBT (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan), SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding menyebabkan kurang bayar atau terlambat bayar</li>
<li>Sanksi 2% per bulan dan merupakan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan jika menunda atau mengangsur</li>
<li>Sanksi 2% atas kekurangan bayar pajak jika kekurangan pajak itu akibat penundaan SPT</li>
</ul>
<h3><span id="Sanksi_Administrasi_Kenaikan"><b>Sanksi Administrasi Kenaikan</b></span></h3>
<p>Sanksi ini dikenakan karena ada pelanggaran tertentu yang tergolong berat dan menyebabkan besar pajak yang dibayar menjadi berlipat ganda, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Kenaikan sanksi 50% dari pajak kurang bayar jika pengungkapan ketidakbenaran SPT sebelum diterbitkannya SKP (Surat Ketetapan pajak)</li>
<li>Kenaikan sanksi 50% dari PPh kurang bayar jika SPT tidak disampaikan sesuai surat teguran, PPN atau PPnBM tidak semestinya dikompensasikan atau tidak menggunakan tarif 0% seperti yang tertera pada Pasal 28 dan Pasal 29</li>
<li>Kenaikan sanksi 100% dari PPh yang dipotong bayar jika tidak dipungut atau tidak disetorkan dari PPh yang tidak dilaksanakan</li>
<li>Kenaikan sanksi 100% dari PPN atau PPnBM yang tidak atau kurang bayar jika PPN atau PPnBM tidak atau kurang bayar</li>
<li>Kenaikan sanksi 100% dari jumlah kekurangan pajak jika ada kekurangan pajak atas SKPKBT</li>
</ul>
<p><img class="aligncenter wp-image-3778 size-large lazyloaded" src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--1200x540.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--300x135.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--333x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 333w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan-.jpg?size=384x173&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--768x346.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--1200x540.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1200w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--1536x691.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1536w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan-.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 2000w" alt="" width="1200" height="540" data-lazy-srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--300x135.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--333x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 333w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan-.jpg?size=384x173&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--768x346.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--1200x540.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1200w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--1536x691.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1536w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan-.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 2000w" data-lazy-sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" data-lazy-src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2018/10/KlikPajak_Blog_Apa-Saja-5-Keuntungan-Revaluasi-Aset-Tetap-Bagi-Perusahaan--1200x540.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" data-was-processed="true" />Ilustrasi menghitung arus kas perusahaan</p>
<blockquote><p><strong>Baca Juga: <a href="http://www.pajakpro.com/kemenkeu-penerimaan-pajak-tahun-ini-merosot-92-persen/">Kemenkeu: Penerimaan Pajak Tahun Ini Merosot 9,2 Persen</a></strong></p></blockquote>
<h3><span id="Selamatkan_Arus_Kas_Usaha_dan_Melaporkan_Pajak_Tepat_Waktu"><b>Selamatkan Arus Kas Usaha dan Melaporkan Pajak Tepat Waktu</b></span></h3>
<p>Di tengah sulitnya situasi ekonomi di tengah krisis akibat pandemi virus corona, sebagai pelaku usaha mesti jeli untuk memanfaatkan informasi terbaru terkait insentif pajak dari pemerintah yang bisa dimanfaatkan.</p>
<p>Tak luput juga soal ketepatan waktu pelaporan pajaknya yang tidak boleh diabaikan oleh wajib pajak badan ini. Sehingga tingkat kepatuhan pajak baik dan terbebas dari sanksi maupun denda.</p>
<h3><span id="Batas_Waktu_Pembayaran_Penyetoran_dan_Pelaporan_Pajak"><b>Batas Waktu Pembayaran, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak</b></span></h3>
<h4><span id="Penyampain_SPT_Tahunan_PPh_Badan"><b>Penyampaian SPT Tahunan PPh Badan</b></span></h4>
<ol>
<li>Batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh Badan adalah paling lama 4 bulan setelah akhir Tahun Pajak:</li>
<li>Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.</li>
<li>Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Tahunan apabila dalam satu tahun Pajak menerima atau memperoleh penghasilan neto tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).</li>
<li>Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh harus dibayar lunas sebelum SPT PPh disampaikan.</li>
</ol>
<h4><span id="Penyampaian_SPT_Masa"><b>Penyampaian SPT Masa</b></span></h4>
<ol>
<li>Batas waktu penyampaian SPT Masa adalah paling lama 20 hari setelah akhir Tahun Pajak:</li>
<li>Tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing-masing jenis pajak, paling lama 15 hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak.</li>
<li>Tanggal jatuh tempo pembayaran, penyetoran pajak, dan pelaporan pajak untuk SPT Masa, yaitu:</li>
</ol>
<ol>
<li>Jika tanggal jatuh tempo pembayaran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, maka pembayaran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.</li>
<li>Jika tanggal batas akhir pelaporan bertepatan dengan hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.</li>
<li>Hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.</li>
<li>Batas waktu pembayaran, penyetoran, atau pelaporan pajak untuk SPT Masa, <strong>selengkapnya dalam tabel berikut ini</strong>;</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td><b>No</b></td>
<td><b>Jenis Pajak</b></td>
<td><b>Batas Pembayaran (Paling Lambat) </b></td>
<td><b>Batas Pelaporan</b></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td><b>(Pasal 2 PMK 242/PMK.03/2014)</b></td>
<td><b>UU Bidang Perpajakan</b></td>
</tr>
<tr>
<td>1</td>
<td>PPh Pasal 4 (2) Setor Sendiri</td>
<td>Tgl. 15 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>2</td>
<td>PPh Pasal 4 (2) Pemotongan</td>
<td>Tgl. 10 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>3</td>
<td>PPh Pasal 15 Setor Sendiri</td>
<td>Tgl. 15 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>4</td>
<td>PPh Pasal 15 Pemotongan</td>
<td>Tgl. 10 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>5</td>
<td>PPh Pasal 21</td>
<td>Tgl. 10 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>6</td>
<td>PPh Pasal 23/26</td>
<td>Tgl. 10 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>7</td>
<td>PPh Pasal 25</td>
<td>Tgl. 15 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>8</td>
<td>PPh 22 Impor Setor Sendiri (dilunasi bersama dengan Bea Masuk, PPN, PPnBM)</td>
<td>Saat penyelesaian dokumen PIB</td>
<td>–</td>
</tr>
<tr>
<td>9</td>
<td>PPh Pasal 22 Impor yang Pemungutan oleh Bea Cukai</td>
<td>1 hari kerja berikutnya</td>
<td>Hari kerja terakhir minggu berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>10</td>
<td>PPh Pasal 22 Pemungutan oleh Bendaharawan</td>
<td>Hari yang sama dengan pembayaran atas penyerahan barang</td>
<td>14 hari setelah masa pajak berakhir</td>
</tr>
<tr>
<td>11</td>
<td>PPh Pasal 22 Migas</td>
<td>Tgl. 10 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>12</td>
<td>PPh Pasal 22 Pemungutan oleh WP Badan Tertentu</td>
<td>Tgl. 10 bulan berikutnya</td>
<td>Tgl. 20 bulan berikutnya</td>
</tr>
<tr>
<td>13</td>
<td>PPN &amp; PPnBM</td>
<td>Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir &amp; sebelum SPT Masa PPN disampaikan</td>
<td>Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir</td>
</tr>
<tr>
<td>14</td>
<td>PPN Atas Kegiatan Membangun Sendiri</td>
<td>Tgl. 15 bulan berikutnya</td>
<td>Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir</td>
</tr>
<tr>
<td>15</td>
<td>PPN atas Kegiatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari Luar Daerah Pabean</td>
<td>Tgl. 15 bulan berikutnya setelah saat terutang pajak</td>
<td>Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir</td>
</tr>
<tr>
<td>16</td>
<td>PPN &amp; PPnBM Pemungutan Bendaharawan</td>
<td>Tgl. 7 bulan berikutnya</td>
<td>Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir</td>
</tr>
<tr>
<td>17</td>
<td>PPN dan/atau PPnBM Pemungutan oleh Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Membayar sebagai Pemungut PPN</td>
<td>Harus disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada PKP Rekanan Pemerintah melalui KPPN</td>
<td>–</td>
</tr>
<tr>
<td>18</td>
<td>PPN &amp; PPnBM Pemungutan Selain Bendaharawan</td>
<td>Tgl. 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir</td>
<td>Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir</td>
</tr>
<tr>
<td>19</td>
<td>PPh 25 WP Kriteria Tertentu yang dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa (Pasal 3 ayat (3B) UU KUP)</td>
<td>Harus dibayar paling lama pada akhir Masa Pajak terakhir</td>
<td>20 hari setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir</td>
</tr>
<tr>
<td>20</td>
<td>Pembayaran masa selain PPh 25 WP Kriteria tertentu yang dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa (Pasal 3 ayat (3B) UU KUP)</td>
<td>Harus dibayar paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis pajak</td>
<td>20 hari setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>5. Ketentuan terkait SPT Masa PPh Pasal 25:</p>
<ol>
<li>Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 adalah:</li>
</ol>
<ul>
<li>WP OP yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas.</li>
<li>WP OP yang dalam satu tahun Pajak menerima atau memperoleh penghasilan neto tidak melebihi PTKP (kepada WP ini juga dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Tahunan)</li>
<li>Wajib Pajak yang melakukan pembayaran PPh Pasal 25 melalui bank persepsi atau kantor pos persepsi dengan sistem pembayaran secara <i>online</i> dan Surat Setoran Pajak (SSP)-nya telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Pembayaran Negara (NTPN), maka SPT Masa PPh Pasal 25 dianggap telah disampaikan ke KPP sesuai dengan tanggal validasi yang tercantum pada SSP.</li>
</ul>
<h4><span id="SPT_Tahunan_PPh_Orang_Pribadi"><b>SPT Tahunan PPh Orang Pribadi</b></span></h4>
<ol>
<li>Batas waktu penyampaian SPT-nya adalah paling lama 3 bulan setelah akhir Tahun Pajak</li>
<li>Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.</li>
<li>Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Tahunan adalah WP OP yang dalam satu tahun Pajak menerima atau memperoleh penghasilan neto tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)</li>
<li>Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh harus dibayar lunas sebelum SPT PPh disampaikan.</li>
</ol>
<p>Agar pembayaran, pelaporan dan pengelolaan pajak lancar, Anda bisa menggunakan aplikasi pajak <i>online</i> dari Klikpajak by Mekari. Klikpajak adalah Penyedia Jasa Aplikasi Pajak (PJAP) atau <i>Application Service Provider</i> (ASP) mitra Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang disahkan dengan Surat Keputusan DJP Nomor KEP-169/PJ/2018.</p>
<div id="attachment_10014" style="width: 952px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-10014" class="lazyloaded wp-image-10014 size-large" src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-942x628.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" sizes="(max-width: 942px) 100vw, 942px" srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-225x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 225w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-300x200.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952.jpg?size=384x256&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-768x512.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-942x628.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 942w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1000w" alt="Ilustrasi bayar dan lapor pajak secara online" width="942" height="628" data-lazy-srcset="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-225x150.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 225w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-300x200.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 300w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952.jpg?size=384x256&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 384w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-768x512.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 768w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-942x628.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 942w, https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952.jpg?lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1 1000w" data-lazy-sizes="(max-width: 942px) 100vw, 942px" data-lazy-src="https://853343.smushcdn.com/1837008/wp-content/uploads/2019/03/shutterstock_310561952-942x628.jpg?size=1200x628&amp;lossy=1&amp;strip=1&amp;webp=1" data-was-processed="true" /><p id="caption-attachment-10014" class="wp-caption-text">Ilustrasi bayar dan lapor pajak secara online</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: Klik Pajak</p><p>The post <a href="https://www.pajakpro.com/dear-pebisnis-ini-cara-jadikan-ppn-sumber-penerimaan-usaha/" target="_blank">Dear Pebisnis, Ini Cara Jadikan PPN Sumber Penerimaan Usaha</a> first appeared on <a href="https://www.pajakpro.com/" target="_blank">Pajak Pro</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.pajakpro.com/dear-pebisnis-ini-cara-jadikan-ppn-sumber-penerimaan-usaha/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penerimaan Pajak RI Diramal Anjlok Lebih Dalam Lagi</title>
		<link>https://www.pajakpro.com/penerimaan-pajak-ri-diramal-anjlok-lebih-dalam-lagi/</link>
					<comments>https://www.pajakpro.com/penerimaan-pajak-ri-diramal-anjlok-lebih-dalam-lagi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[BCG Consulting Group]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2020 02:10:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[artikel pajak]]></category>
		<category><![CDATA[berita pajak]]></category>
		<category><![CDATA[berita terkini]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan pajak]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[perpajakan]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem Perpajakan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pajakpro.com/?p=2206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu memproyeksi penerimaan pajak pada 2020 ini bisa terkontraksi lebih dari 10% dibandingkan realisasi tahun lalu. Artinya, outlook yang sudah dimasukkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 72 Tahun 2020 bisa saja meleset dari yang sudah diestimasi. &#8220;Ada kemungkinan penerimaan pajak pada Perpres No. 72 Tahun 2020 ini kontraksinya lebih dalam dari asumsi 10%. Ada tanda-tanda kalau kita lihat data per akhir Mei ini akan lebih parah sehingga bisa lebih dalam dari minus 10%,&#8221; ujar Febrio dalam diskusi virtual, Sabtu (27/6/2020). Untuk diketahui, penerimaan pajak tahun ini, sesuai Perpres No. 72 Tahun 2020 ditargetkan senilai Rp 1.198,8</p>
<p>The post <a href="https://www.pajakpro.com/penerimaan-pajak-ri-diramal-anjlok-lebih-dalam-lagi/" target="_blank">Penerimaan Pajak RI Diramal Anjlok Lebih Dalam Lagi</a> first appeared on <a href="https://www.pajakpro.com/" target="_blank">Pajak Pro</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta</strong> &#8211; Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu memproyeksi penerimaan pajak pada 2020 ini bisa terkontraksi lebih dari 10% dibandingkan realisasi tahun lalu. Artinya, outlook yang sudah dimasukkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 72 Tahun 2020 bisa saja meleset dari yang sudah diestimasi.</p>
<p>&#8220;Ada kemungkinan penerimaan pajak pada Perpres No. 72 Tahun 2020 ini kontraksinya lebih dalam dari asumsi 10%. Ada tanda-tanda kalau kita lihat data per akhir Mei ini akan lebih parah sehingga bisa lebih dalam dari minus 10%,&#8221; ujar Febrio dalam diskusi virtual, Sabtu (27/6/2020).</p>
<p>Untuk diketahui, penerimaan pajak tahun ini, sesuai Perpres No. 72 Tahun 2020 ditargetkan senilai Rp 1.198,8 triliun. Target itu mencatatkan penurunan 10% jika dibandingkan realisasi tahun lalu yang senilai Rp 1.332,1 triliun.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="http://www.pajakpro.com/kemenkeu-penerimaan-pajak-tahun-ini-merosot-92-persen/">Kemenkeu: Penerimaan Pajak Tahun Ini Merosot 9,2 Persen</a></strong></p>
<p>Target dalam Perpres No. 72 Tahun 2020 ini juga tercatat turun dibandingkan APBN induk dan Perpres No. 54 Tahun 2020, masing-masing sebesar 27% dan 4,4%.</p>
<p>Sementara itu, insentif pajak yang dialokasikan senilai Rp 120,6 triliun pada anggaran ternyata baru dimanfaatkan senilai Rp 12 triliun oleh wajib pajak terhitung sejak April hingga menjelang akhir Juni 2020. Kurangnya pemanfaatan insentif pajak ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi. Wajib pajak yang berhak (eligible) juga banyak yang belum mengajukan permohonan insentif.</p>
<p>&#8220;Untuk insentif pajak, hasil evaluasi, kita lihat banyak wajib pajak yang belum menggunakan insentif tersebut. Ini kita evaluasi dan akan kita siap untuk alihkan ke yang lain,&#8221; ungkapnya.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="http://www.pajakpro.com/wah-djp-gelar-lomba-artikel-poster-berhadiah-rp65-juta-tertarik/">Wah, DJP Gelar Lomba Artikel &amp; Poster Berhadiah Rp65 Juta! Tertarik?</a></strong></p>
<p>Dengan fasilitas pajak yang belum banyak dimanfaatkan itu, Febrio memproyeksi penerimaan pajak bisa jadi terkoreksi.</p>
<p>&#8220;Kalau insentifnya tidak dimanfaatkan, ini mungkin bisa saling <em>cancel out</em>,&#8221; tutupnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: Detik Finance</p><p>The post <a href="https://www.pajakpro.com/penerimaan-pajak-ri-diramal-anjlok-lebih-dalam-lagi/" target="_blank">Penerimaan Pajak RI Diramal Anjlok Lebih Dalam Lagi</a> first appeared on <a href="https://www.pajakpro.com/" target="_blank">Pajak Pro</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.pajakpro.com/penerimaan-pajak-ri-diramal-anjlok-lebih-dalam-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kemenkeu: Penerimaan Pajak Tahun Ini Merosot 9,2 Persen</title>
		<link>https://www.pajakpro.com/kemenkeu-penerimaan-pajak-tahun-ini-merosot-92-persen/</link>
					<comments>https://www.pajakpro.com/kemenkeu-penerimaan-pajak-tahun-ini-merosot-92-persen/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[BCG Consulting Group]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2020 05:58:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[artikel pajak]]></category>
		<category><![CDATA[berita pajak]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan pajak]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[penerimaan pajak]]></category>
		<category><![CDATA[perpajakan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.pajakpro.com/?p=2193</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Kementerian Keuangan mengatakan, pertumbuhan penerimaan pajak tahun ini akan mengalami kontraksi yang cukup dalam. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyatakan, tahun ini, pertumbuhan penerimaan pajak diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 9,2 persen. Angka tersebut lebih tertekan dari asumsi yang tertuang di dalam Perpres 54 tahun 2020 yang mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 5,4 persen. &#8220;Di 2020 pun sudah terlihat saat ini bahwa akan sangat dalam. Untuk 2020, ini pun kita sudah lakukan penajaman lagi 2 kali. Pertama asumsi Perpres 54 2020 itu kita lihat pertumbuhannya -5,4 persen, tapi setelah kita lihat lagi data terakhir, saat ini</p>
<p>The post <a href="https://www.pajakpro.com/kemenkeu-penerimaan-pajak-tahun-ini-merosot-92-persen/" target="_blank">Kemenkeu: Penerimaan Pajak Tahun Ini Merosot 9,2 Persen</a> first appeared on <a href="https://www.pajakpro.com/" target="_blank">Pajak Pro</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Kementerian Keuangan mengatakan, pertumbuhan penerimaan pajak tahun ini akan mengalami kontraksi yang cukup dalam. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyatakan, tahun ini, pertumbuhan penerimaan pajak diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 9,2 persen.</p>
<p>Angka tersebut lebih tertekan dari asumsi yang tertuang di dalam Perpres 54 tahun 2020 yang mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 5,4 persen. &#8220;Di 2020 pun sudah terlihat saat ini bahwa akan sangat dalam.</p>
<p>Untuk 2020, ini pun kita sudah lakukan penajaman lagi 2 kali. Pertama asumsi Perpres 54 2020 itu kita lihat pertumbuhannya -5,4 persen, tapi setelah kita lihat lagi data terakhir, saat ini angka yang digunakan adalah outlook 2002 -9,2 persen,&#8221; ujar Febrio ketika melakukan rapat dengan Badan Anggaran DPR RI, Rabu (24/6/2020).</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="http://www.pajakpro.com/wah-djp-gelar-lomba-artikel-poster-berhadiah-rp65-juta-tertarik/">Wah, DJP Gelar Lomba Artikel &amp; Poster Berhadiah Rp65 Juta! Tertarik?</a></strong></p>
<p>Febrio menyebutkan, rata-rata realisasi pertumbuhan penerimaan perpajakan dalam lima tahun terakhir sudah cukup rendah, yaitu di kisaran 6,2 persen. Di tahun 2020, akibat hantaman pandemi virus corona (Covid-19) penerimaan negara pun kian tertekan.</p>
<p>Febrio mengatakan, kontraksi yang cukup dalam pada penerimaan perpajakan tahun ini belum pernah di alami di tahun-tahun yang lalu.</p>
<p>&#8220;Jadi memang belum pernah kita alami tekanan sedalam ini untuk penerimaan perpajakan. Dan bulan-bulan ke depan masih akan dilihat seperti apa,&#8221; ucap dia.</p>
<p>Febrio mengatakan, terdapat dia penyebab tekanan terjadi dalam penerimaan perpajakan. Pertama, perekonomian yang sedang sakit akibat akibat banyak kegiatan usaha yang harus berhenti hingga merumahkan pekerja. Kedua, pemerintah secara jor-joran menggelontorkan anggaran belanja untuk membantu sektor usaha.</p>
<p>&#8220;Kalau kita berada di minus 9,2 persen outlok 2020, itu harapannya mencerminkan kondisi sekarang dan juga kondisi di mana pemeritnah berusaha untuk hadir,&#8221; ujar dia.</p>
<p>Untuk diketahui, pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp 695,2 triliun untuk penanganan pandemi. Besaran dana tersebut mayoritas dialokasikan untuk program perlindungan sosial sebesar Rp 203,9 triliun. Selain itu, pemerintah juga akan menggunakannya untuk sektor kesehatan sebesar Rp 87,55 triliun, insentif usaha Rp 120,61 triliun, dan sektor UMKM Rp 123,46 triliun.</p>
<p>Lalu, sisanya untuk pembiayaan korporasi sebesar Rp 53,57 triliun dan dukungan sektoral kementerian/lembaga serta pemerintah daerah (pemda) Rp 106,11 triliun. Adapun dengan revisi tersebut, maka terjadi perubahan atas realisasi dalam APBN tahun ini.</p>
<p>Outlook pendapatan negara turun menjadi Rp 1.699,1 triliun dari yang sebelumnya Rp 1.760,9 triliun. Pendapatan dari sektor perpajakan, baik dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) turun menjadi Rp 1.404,5 triliun dari yang sebelumnya Rp 1.462,6 triliun. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) menjadi Rp 294,1 triliun.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="http://www.pajakpro.com/pakai-file-lama-pelaporan-insentif-pajak-wp-diminta-hubungi-ar/">Pakai File Lama Pelaporan Insentif Pajak, WP Diminta Hubungi AR</a></strong></p>
<p>Dengan begitu total pendapatan dalam negeri menjadi Rp 1.698,6 triliun dan hibah Rp 0,5 triliun. Sementara untuk anggaran belanja negara mengalami kenaikan menjadi Rp 2.738,4 triliun dari yang sebelumnya Rp 2.613,8 triliun.</p>
<p>Adapun untuk anggaran transfer daerah dan dana desa (TKDD), lanjut Febrio meningkat tipis menjadi Rp 763,9 triliun dari yang sebelumnya Rp 762,7 triliun.</p>
<p>Sumber: Kompas.com</p><p>The post <a href="https://www.pajakpro.com/kemenkeu-penerimaan-pajak-tahun-ini-merosot-92-persen/" target="_blank">Kemenkeu: Penerimaan Pajak Tahun Ini Merosot 9,2 Persen</a> first appeared on <a href="https://www.pajakpro.com/" target="_blank">Pajak Pro</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.pajakpro.com/kemenkeu-penerimaan-pajak-tahun-ini-merosot-92-persen/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
